Friday, December 1, 2017

BBM 11 BLANGKON NGAYOGYOKARTO

BBM 11    BLANGKON GAYA NGAYOGYOKARTO




Anda ingin  memiliki BLANGKON gaya NGAYOGYOKARTO yang demes sreg alias pas, nyaman dipakai? Coba luangkan waktu sejenak untuk membaca kisah ini. Perkenalkan pria paruh baya bernama bapak Agus Indarto yang tinggal di Jetis Sendang Sari kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul. Terdampar jadi pengrajin BLANGKON sebenarnya bukan cita dan angannya. Beliau asli dari Bugisan NGAYOGYOKARTO salah satu kampung sentral para pengrajin BLANGKON. Saat SMP kadang iseng-iseng membantu teman membuat BLANGKON. Berawal dari sinilah keterampilan itu dimiliki.

Lulus STM merantau ke Bali berdagang souvenir, barang dikirim oleh orang tuanya. Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih bila Sang Pengatur berkehendak lain. Duoor ... dan duoor ... duoor ... bom Bali satu disusul yang ke dua memporak porandakan perekonomian para penjual souvenir untuk beberapa waktu. Tak sengaja, sayup-sayup terdengar nyanyian merdu Katon Bagaswara dari radio tetangga sebelah...PULANG KE KOTAKU...Gregah bagai terbangun dari mimpi...pak Agus segera berkemas untuk mudik sesuai lantunan mas Katon...PULANG NGAYOGYOKARTO... meski tak tahu apa yang akan dikerjakan nanti.

Coba tebak para pembaca, apa pilihan selanjutnya...nggak tanggung-tanggung. Menikah segera, dengan keyakinan rejeki pasti akan mengikuti setiap ada usaha. Buka angkringan jual nasi kucing [nasi bungkus yang ditambah sedikit lauk, sambal ikan teri atau kering tempe harganya sangat murah, sekarang pun hanya seribu lima ratus rupiah], wedang jahe, teh panas dan aneka gorengan murah meriah. Lokasi sekitar Universitas PGRI berjarak sekitar lima belas kilo meter dari kediamannya. Ngos-ngosan bolak balik mengangkut dagangan, belum lagi kalau musim hujan. Alhasil hanya bertahan delapan bulan.

Gempa bumi di kabupaten Bantul tahun 2006, membawa banyak korban dan lesunya perekonomian untuk beberapa waktu. Kala itu sudah punya putra. Terdesak kebutuhan untuk anak istri, mengharuskan pak Agus harus berfikir sekian keliling...berkunang-kunang bagai puyer bintang tujuh...pusiiinnnggg.... Kali ini tidak terinspirasi lagu namun teringat pepatah nenek moyang sopo nandur bakal ngunduh...siapa menanam akan menuai. Setiap ikhtiar pasti akan berbuah. Satu-satunya keterampilan adalah membuat BLANGKON khas gaya NGAYOGYOKARTO. Niatnya semula untuk batu loncatan sementara belum mendapat pekerjaan lain yang lebih menjanjikan mimpi masa depan. Minggu berganti bulan yang menyongsong matahari untuk selalu berganti...pindah kerja appaaa.... kok belum muncul juga batu-batu lain yang bisa diloncati. Tak terasa jemari tangannya semakin terampil menghasilkan BLANGKON yang halus dan memuaskan pelanggannya. Membuat rasa legowo ... hatinya sudah dapat menerima bahwa inilah karunia Tuhan yang harus beliau tekuni dan nikmati rasa seninya.

Awalnya hanya membuat lebih kurang dua puluh BLANGKON untuk disetor ke pasar BERINGHARJO sebagai pasar terbesar di NGAYOGYOKARTO. Ini dilakukan sekitar satu tahun. Karena kuwalitas dan kerapiannya bagus maka secara gethok tular...dari mulut ke mulut banyak yang pesan ke rumah, bahkan dari luar kabupaten Bantul. Semenjak semakin laris pak Agus tidak perlu setor ke pasar, cukup melayani para pemesan di rumah. Untuk pengrajin yang satu ini lebih idialis, beliau tidak punya asisten, semua dikerjakan sendiri. Lebih marem...mantap katanya.

Kaitannya dengan cinta lingkungan, bahan pembuatan BLANGKON ini sangat ramah lingkungan. BLANGKON kuwalitas prima, lapisan dalamnya menggunakan mendhong sejenis pelepah yang digunakan untuk membuat tikar tradisional. Saat dipakai lebih dingin dan lebih awet. Sedang harga yang lebih murah lapisan dalamnya menggunakan kertas karton dan lem. Bedanya lagi, kuwalitas prima semua pengerjaannya murni jahitan tangan. Disini ketrampilan personal sangat membedakan antara pengrajin yang satu dengan pengrajin yang lainnya. BLANGKON rapi...keren...mantap...laahh yooww.

Adanya DANA ISTIMEWA dari Pusat  memberi semangat munculnya pengrajin BLANGKON baru. Menurut pak Agus di Bantul ada sebelas pengrajin, belum ditambah yang tidak terdaftar. Di NGAYOGYOKARTO yang terdaftar ada tujuh puluh pengrajin. Persaingan di pasar semakin ketat mendorong mereka untuk meningkatkan kuwalitas.

Penghujung kunjungan saya di ruang kerja beliau yang nyaman duduk lesehan di serambi belakang nan tenang...ada pesan menyentuh hati...diniatkan tidak sekedar untuk mencari nafkah. Lebih dari itu...wujud sumbangsih nguri-uri kabudhayan leluhur. Wujud nyata upaya sumbangan karya budaya leluhur agar tak punah hilang terhantam budaya baru dari luar. Karyanya khusus BLANGKON MATARAM khas NGAYOGYOKARTO degan mondol satu.

Demikian yang dapat tamanbusur.blogspot.com sajikan. Kritik saran sangat saya harap untuk proses belajar menulis ini. Terimakasih kepada bapak Agus Indarto yang bersedia meluangkan waktunya untuk berbagi ilmu di hari Senin tanggal 21 November 2016 jam 15.23 WIB.

No comments:

Post a Comment