BBM 11 BLANGKON
GAYA NGAYOGYOKARTO
Anda ingin memiliki BLANGKON gaya NGAYOGYOKARTO yang demes sreg alias pas, nyaman dipakai? Coba luangkan waktu sejenak untuk
membaca kisah ini. Perkenalkan pria paruh baya bernama bapak Agus Indarto yang
tinggal di Jetis Sendang Sari kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul. Terdampar
jadi pengrajin BLANGKON sebenarnya bukan cita dan angannya. Beliau asli dari
Bugisan NGAYOGYOKARTO salah satu kampung sentral para pengrajin BLANGKON. Saat
SMP kadang iseng-iseng membantu teman membuat BLANGKON. Berawal dari sinilah
keterampilan itu dimiliki.
Lulus STM merantau ke Bali
berdagang souvenir, barang dikirim oleh orang tuanya. Malang tak dapat ditolak
untung tak dapat diraih bila Sang Pengatur berkehendak lain. Duoor ... dan
duoor ... duoor ... bom Bali satu disusul yang ke dua memporak porandakan
perekonomian para penjual souvenir untuk beberapa waktu. Tak sengaja,
sayup-sayup terdengar nyanyian merdu Katon Bagaswara dari radio tetangga
sebelah...PULANG KE KOTAKU...Gregah bagai
terbangun dari mimpi...pak Agus segera berkemas untuk mudik sesuai lantunan mas
Katon...PULANG NGAYOGYOKARTO... meski tak tahu apa yang akan dikerjakan nanti.
Coba tebak para pembaca, apa
pilihan selanjutnya...nggak tanggung-tanggung. Menikah segera, dengan keyakinan
rejeki pasti akan mengikuti setiap ada usaha. Buka angkringan jual nasi kucing
[nasi bungkus yang ditambah sedikit lauk, sambal ikan teri atau kering tempe
harganya sangat murah, sekarang pun hanya seribu lima ratus rupiah], wedang jahe, teh panas dan aneka
gorengan murah meriah. Lokasi sekitar Universitas PGRI berjarak sekitar lima
belas kilo meter dari kediamannya. Ngos-ngosan bolak balik mengangkut dagangan,
belum lagi kalau musim hujan. Alhasil hanya bertahan delapan bulan.
Gempa bumi di kabupaten Bantul
tahun 2006, membawa banyak korban dan lesunya perekonomian untuk beberapa
waktu. Kala itu sudah punya putra. Terdesak kebutuhan untuk anak istri,
mengharuskan pak Agus harus berfikir sekian keliling...berkunang-kunang bagai
puyer bintang tujuh...pusiiinnnggg.... Kali ini tidak terinspirasi lagu namun
teringat pepatah nenek moyang sopo nandur
bakal ngunduh...siapa menanam akan menuai. Setiap ikhtiar pasti akan
berbuah. Satu-satunya keterampilan adalah membuat BLANGKON khas gaya
NGAYOGYOKARTO. Niatnya semula untuk batu loncatan sementara belum mendapat
pekerjaan lain yang lebih menjanjikan mimpi masa depan. Minggu berganti bulan yang
menyongsong matahari untuk selalu berganti...pindah kerja appaaa.... kok belum
muncul juga batu-batu lain yang bisa diloncati. Tak terasa jemari tangannya
semakin terampil menghasilkan BLANGKON yang halus dan memuaskan pelanggannya.
Membuat rasa legowo ... hatinya
sudah dapat menerima bahwa inilah karunia Tuhan yang harus beliau tekuni dan
nikmati rasa seninya.
Awalnya hanya membuat lebih
kurang dua puluh BLANGKON untuk disetor ke pasar BERINGHARJO sebagai pasar
terbesar di NGAYOGYOKARTO. Ini dilakukan sekitar satu tahun. Karena kuwalitas
dan kerapiannya bagus maka secara gethok
tular...dari mulut ke mulut banyak yang pesan ke rumah, bahkan dari luar
kabupaten Bantul. Semenjak semakin laris pak Agus tidak perlu setor ke pasar,
cukup melayani para pemesan di rumah. Untuk pengrajin yang satu ini lebih
idialis, beliau tidak punya asisten, semua dikerjakan sendiri. Lebih marem...mantap
katanya.
Kaitannya dengan cinta
lingkungan, bahan pembuatan BLANGKON ini sangat ramah lingkungan. BLANGKON
kuwalitas prima, lapisan dalamnya menggunakan mendhong sejenis pelepah yang
digunakan untuk membuat tikar tradisional. Saat dipakai lebih dingin dan lebih
awet. Sedang harga yang lebih murah lapisan dalamnya menggunakan kertas karton
dan lem. Bedanya lagi, kuwalitas prima semua pengerjaannya murni jahitan
tangan. Disini ketrampilan personal sangat membedakan antara pengrajin yang
satu dengan pengrajin yang lainnya. BLANGKON rapi...keren...mantap...laahh
yooww.
Adanya DANA ISTIMEWA dari
Pusat memberi semangat munculnya pengrajin
BLANGKON baru. Menurut pak Agus di Bantul ada sebelas pengrajin, belum ditambah
yang tidak terdaftar. Di NGAYOGYOKARTO yang terdaftar ada tujuh puluh
pengrajin. Persaingan di pasar semakin ketat mendorong mereka untuk
meningkatkan kuwalitas.
Penghujung kunjungan saya di
ruang kerja beliau yang nyaman duduk lesehan di serambi belakang nan tenang...ada
pesan menyentuh hati...diniatkan tidak sekedar untuk mencari nafkah. Lebih dari
itu...wujud sumbangsih nguri-uri kabudhayan
leluhur. Wujud nyata upaya sumbangan karya budaya leluhur agar tak punah
hilang terhantam budaya baru dari luar. Karyanya khusus BLANGKON MATARAM khas
NGAYOGYOKARTO degan mondol satu.
Demikian yang dapat
tamanbusur.blogspot.com sajikan. Kritik saran sangat saya harap untuk proses belajar
menulis ini. Terimakasih kepada bapak Agus Indarto yang bersedia meluangkan
waktunya untuk berbagi ilmu di hari Senin tanggal 21 November 2016 jam 15.23
WIB.



No comments:
Post a Comment