Sunday, January 21, 2018

BBM 14 S E K A T E N

BBM 14      S E K A T E N

Buat ananda Muhammad Khalil Azfar. Putra bungsu dari Bapak Arif dan Ibu Yunila Wati di Langsa Aceh Timur. Beberapa waktu lalu menanyakan, “Apakah sekaten itu?”
Untuk menjawabnya Ibu beli buku panduan yang dijual di Koperasi Keraton dengan judul Mengenal Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Penyusun Mas Fredy Heryanto. Cetakan ke satu tahun 2009. Diterbitkan oleh Warna Grafika Jl. Prof. Dr. Soepomo, SH No. 9 F Yogyakarta.
S E K A T E N
Menurut sejarahnya, perayaan Sekaten bermula sejak jaman kerajaan Islam Demak. Meski sebelumnya, ketika jaman pemerintahan Raja Hayam Wuruk di Majapahit, perayaan  semacam Sekaten yang disebut “SRADA AGUNG” itu sudah ada. Perayaan yang menjadi tradisi kerajaan Majapahit tersebut, berupa persembahan sesaji kepada para dewa, disertai dengan mantra-mantra, sekaligus untuk menghormati arwah leluhur.
Namun ketika Majapahit runtuh, dan kemudian berdiri kerajaan Islam Demak, oleh Raden Patah [Raja Demak pertama] dengan disertai dukungan para wali, perayaan tersebut selanjutnya dialihkan menjadi kegiatan yang bersifat Islami. Serta menjadi sarana pengembangan [syiar] Islam yang dilakukan oleh para wali, dengan membunyikan gamelan yang bernama KYAI SEKATI, pada setiap bulan Mulud [Jawa], dalam rangka perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Perayaan itu kemudian disebut SEKATEN [dari kata Sekati].
Pendapat lainnya menyatakan bahwa, kata SEKATEN bersal dari bahasa Arab, yaitu SYAHADATAIN, yang berarti Dua Syahadat atau kesaksian. Dua syahadat itu ialah :
1.       SYAHADAT TAUHID, kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Lafalnya : ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH [Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah].
2.       SYAHADAT RASUL, kesaksian atau pengakuan bahwa Nabi Muhammad itu Rasul [utusan] Allah.
Perayaan Sekaten yang diselenggarakan di Kraton Yogyakarta berlangsung dari tanggal 5 hingga 11 Mulud [Rabiul Awal]. Acara ini diawali dengan dibunyikan 2 perangkat gamelan yang bernama KYAI GUNTUR MADU [dari Demak] dan KYAI NAGAWILAGA [ciptaan Sri Sultan HB I] di Bangsal Ponconiti, disertai pemberian sedekah dari Sultan berupa Udhik-udhik, oleh utusan Sultan.
Setelah selesai, kemudian dengan dikawal oleh para prajurit Kraton, 2 perangkat gamelan tersebut dikeluarkan menuju halaman masjid Agung. Selanjutnya gamelan Kyai Guntur Madu ditempatkan di Pagongan Selatan dan Kyai Nagawilaga ditempatkan di Pagongan Utara. Pagongan ialah bangunan berbentuk panggung, yang digunakan untuk menempatkan dan sekaligus untuk membunyikan gamelan Sekaten. Bangunan tersebut ada 2, terletak di halaman depan masjid Agung, di sebelah Selatan dan Utara.
Dengan gending-gending tertentu ciptaan para wali, dibunyikanlah gamelan tersebut secara bergantian selama 7 [tujuh] hari, kecuali Kamis Malam sampai Jumat  siang sehabis sholat Jumat, pada jam 08.00-12.00 wib, 14.00-17.00 wib dan 20.00-24-00 wib. Gending-gending Sekaten yang dibawakan adalah : Rambu-rambu, Rangkung, Lunggadhung, Atur-atur, Andung-andung, Redheng, Jaumi, Gliyung, Salatun, Dhindhang Sabinah, Muru Putih dan Orang-aring, Bayem Tur, Supiyatun, Srundeng Gosong, Sir Tupana, Muhambara, Supangatul Robani dan Ngasuibi. Semula gamelan Sekaten itu memiliki daya panggil yang sangat besar terhadap warga masyarakat, dan mereka berdatangan menyaksikannya. Kepada mereka kemudian diberikan penyuluhan dan penerangan tentang agama Islam. Dan bagi warga masyarakat yang dengan sukarela menyatakan masuk  Islam, diberikan bimbingan untuk mengikrarkan imannya dengan mengucapkan Syahadatain atau dua kalimat Syahadat. Karena terjadi perubahan ucapan maka kata SYAHADATAIN itu berubah menjadi SEKATEN.
Inti dari perayaan ini berupa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 11 Mulud Malam di Serambi Masjid Agung, dengan pembacaan riwayat Nabi Muhammamad SAW, oleh Abdidalem Penghulu Kraton di hadapan Sultan. Acara ini bersifat resmi. Setelah acara selesai, kemudian 2 perangkat gamelan Sekaten diusung kembali menuju ke Kraton.
Pada tanggal 12 Mulud diselenggarakan.upacara adat Kraton, yaitu Upacara Grebeg Mulud sebagai puncak dari perayaan Sekaten.

                G R E B E G




Grebeg adalah upacara adat di Kraton Yogyakarta yang diselenggarakan tiga kali dalam setahun untuk memperingati hari besar Islam. Mengenai istilah garebeg ini berasal dari bahasa Jawa “Grebeg”, yang berarti “diiringi para pengikut”. Karena perjalanan Sultan keluar dari istana itu memang selalu diikuti banyak orang, sehingga disebut GAREBEG. Pengertian lain mengatakan bahwa karena gunungan itu diperebutkan warga masyarakat yang berarti digrebeg, maka disebut GAREBEG.
Pelaksanaan upacara tersebut bertepatan dengan hari-hari besar Islam seperti :
1.       GAREBEG SYAWAL, dilaksanakan pada hari pertama bulan Syawal untuk memperingati Hari Raya Lebaran [Idul Fitri].
2.       GAREBEG BESAR, dilaksanakan pada hari ke sepuluh bulan Besar [Dzulhijah] untuk memperingati Hari Raya Qurban [Idul Adha].
3.       GAREBEG MAULUD, dilaksanakan pada hari keduabelas bulan Mulud [Rabiul Awal] untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Pada setiap upacara Garebeg, Sultan berkenan memberi sedekah berupa gunungan kepada rakyatnya. Gunungan tersebut berisi makanan yang dibuat dari ketan, telur ayam, buah-buahan, serta sayuran yang semuanya dibentuk seperti gunung [tumpeng besar] sehingga disebut GUNUNGAN. Gunungan ini sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan kerajaan Mataram.
Upacara adat ini diawali dari halaman Kemandungan Lor [Keben]. Dengan dikawal oleh prajurit Kraton, gunungan yang berada di bangsal Ponconiti dibawa oleh abdi dalem menuju Alun-alun Lor melalui halaman Sitihinggil Lor dan Bangsal Pagelaran. Setibanya di Alon-alun Lor gunungan tersebut disambut dengan tembakan salvo oleh prajurit kraton sebagai penghormatan.
Selanjutnya gunungan tersebut dibawa menuju halaman Masjid Agung untuk dibacakan doa terlebih dahulu oleh Abdidalem Penghulu Kraton, demi kemuliaan Sultan dan kesejahteraan rakyat. Setelah itu gunungan tersebut diperebutkan oleh masyarakat yang ingin mendapatkan berkah dari gunungan tersebut.

1 comment:

  1. Alhamdulillah dapat pengetauan baru dr bu budi.. makasih ya. jadi tau sejarah sekaten

    ReplyDelete