
Senangnya... siang ini ada sedulur yang berkenan memboyong semua bibit pohon mangga yang aku punya. Dihari bumi lalu aku tawarkan belum ada yang mau mengambil. Salah satu alasannya, pohon mangga yang disemai mulai dari biji, akan berbuah lebih lama dan pohonnya pun cenderung lebih besar. Berbeda dari cangkok batang, akan lebih cepat berbuah dan pohonnya pun tidak terlalu besar. Bersyukur akhirnya ada juga yang mau mengangkut semuanya.

Pesan akhir pada seombyok bibit pohon mangga ku :
Dengan penuh kasih aku merawatmu selama ini. Setiap pagi saat aku buka jendela, kamu berderet diatas rak bunga. Senang melihatmu bertambah besar. Sedih karena sampai kapan kamu akan bertahan disitu? Ada satu pohon yang mulai mengering karena sudah terlalu besar untuk tetap berada di polybag yang sempit. Aku sangat mengkhawatirkan kamu. Karena bukan tanpa alasan aku menyemaimu. Ku ingat saat putar kampung cari biji pohon mangga, sampai rumah (tak oyak-oyak bojoku ndang nandur ing polybag) disemai hingga tumbuh tunas dan berkembang secantik siang ini. Aku ingin punya WONO DESO, hutan desa yang cukup menampung tumbuh kembang tubuhmu. Agar kelak kamu mampu memperpanjang umur bumi, mengikat air tanah dan memasok oksigen bagi keberlangsungan makhluk hidup yang lain. Tumbuhan sungguh mulia hidupmu. Berguna... Berarti... tanpa ingin menonjolkan diri. Kamu tidak pernah pingin selfie... tak pernah menuntut untuk dimanja dan diperlakukan istimewa. Karena kekuatan alam yang lebih melindungimu. Tanpa disiram, tanpa dipupuk... kau tetap hidup... cukup dengan air hujan yang mengguyurmu. Kurawat dengan senandung doa... Kulepas pula dengan doa plus sedikit mata berkaca. Baik-baik ya sayang... dalam pengasuhan orang lain. Huhuhu... tak ada sebiji sawipun yang terlepas dari catatannya. Pasti diwaktu yang lain, bila mungkin aku melintas disampingmu... so pasti aku sudah tidak mengenalmu. Namun aku yakin akan manfaatmu... belum lagi manis buahmu. (Nggak harus manis sih, yang masam juga dicari penjual lotis dan ibu-ibu yang ngidam. Manis asam tetap manfaat). Huhuhu... sampai bertemu pada hari pencatatan nanti, kita pasti bertemu karna kita pernah bersama dan punya visi yang sama untuk menjaga kelestarian bumi. Jangan lupa doakan aku, insya Allah bisa punya WONO DESO. Selamat tinggal... Baik-baik sayangku...
No comments:
Post a Comment