
Lebaran hari ke 2, Sabtu 16 Juni 2018
Keluarga besar simbah Achmad Sumedi
berkumpul di pintu samping yang berhadapan dengan alun-alun Kutowinangun Kebumen. Kebetulan aku tidak bisa mengikuti kebersamaan mereka. Yang aku ingat bila berada di rumah almarhum mertua adalah tentang stasiun kereta api. Jalan ke utara sedikit sudah sampai di stasiun. Biasanya berbondong jalan-jalan di stasiun saat pagisebelum mandi atau sore hari. Kalau ada tontonan pasar malam pun tinggal duduk didepan pintu pagar samping karena alun-alun berada pas di depannya. Pada kesempatan ini saya ingin cerita tentang oleh-oleh yang dibawakan ke rumah. Makanan yang baru sekali aku mencicipinya. Namanya KUPAT SUMPIL. Makanan yang merekatkan kembali anak, cucu, cicit dilebaran tahun ini.

Ini kupat sumpil dan bumbu yang sisajikan diacara kumpul putu.
Cara membuat kupat :
Beras dicuci bersih lalu tiriskan. Kupat ini dibungkus dengan daun bambu yang cukup dilap atau diserbet saja. Jangan dicuci karena daun akan getas atau mudah sobek. Kemudian dibungkus sedemikian rupa berbentuk conthong. Isikan beras separo conthong. Oya daun bambunya pilihlah yang muda. Lalu sematkan lidi / biting yang sudah dipotong runcing. Direbus semalam dengan menggunakan bahan bakar kayu. Setelah matang, matikan kayu dan biarkan panci tetap diatas tungku. Namanya dinggeng supaya tanak atau mateng banget. Setelah tidak ada bara apinya baru diangkat dan ditiriskan. Tahan untuk dua hari.
Cara membuat bumbunya :
Kacang tanah disangrai. Kelapa parut disangrai. Campurkan kacang sangrai dan kelapa sangrai lalu dihaluskan.
Siapkan cabe, bawang merah, bawang putih, kencur lalu disangrai. Haluskan dan tambahkan gula merah secukupnya.
Campur jadi satu kacang, kelapa dan bumbu. Haluskan lagi. Eee ada yang lupa, garam belum disebut. Bisa tidak berasa nanti.
Cara membuat kupat :
Beras dicuci bersih lalu tiriskan. Kupat ini dibungkus dengan daun bambu yang cukup dilap atau diserbet saja. Jangan dicuci karena daun akan getas atau mudah sobek. Kemudian dibungkus sedemikian rupa berbentuk conthong. Isikan beras separo conthong. Oya daun bambunya pilihlah yang muda. Lalu sematkan lidi / biting yang sudah dipotong runcing. Direbus semalam dengan menggunakan bahan bakar kayu. Setelah matang, matikan kayu dan biarkan panci tetap diatas tungku. Namanya dinggeng supaya tanak atau mateng banget. Setelah tidak ada bara apinya baru diangkat dan ditiriskan. Tahan untuk dua hari.
Cara membuat bumbunya :
Kacang tanah disangrai. Kelapa parut disangrai. Campurkan kacang sangrai dan kelapa sangrai lalu dihaluskan.
Siapkan cabe, bawang merah, bawang putih, kencur lalu disangrai. Haluskan dan tambahkan gula merah secukupnya.
Campur jadi satu kacang, kelapa dan bumbu. Haluskan lagi. Eee ada yang lupa, garam belum disebut. Bisa tidak berasa nanti.
Cara menyajikan :
Ini sedikit kupat sumpil yang dibawakan untuk saya. Semula saya kira lopis, tapi kok pakai bumbu. Bungkusannya rapi, rasanya lebih legit daripada kupat janur. Pantas saja ya... karena bungkusannya kecil jadi beras bisa mekar lebih sempurna.
Satu porsi harganya Rp. 3.500, berisi sepuluh kupat sumpil. Murah, enak, langka dan ditanggung tidak bisa membuat sendiri. Di kota sudah tidak ada pohon bambu.
Kupat sumpil ini dibuat turun temurun oleh keluarga ibu Mugiyati yang beralamat di Dukuh - Sinungrejo - Kutowinangun - Kebumen. Omset per hari sebanyak 10 Kg. Satu kilogram harganya Rp.35.000, isinya sekitar 100 kupat sumpil.Tiap hari Rabu dan Minggu jualan di pasar Tumenggungan Kebumen.
Tiap hari Selasa dan Jum'at jualan di pasar Kutowinangun tetapi bila ada stok saja. Selain itu hanya melayani pesanan. Nah semoga tulisan ini ada manfaatnya dikemudian hari. Sejarah makanan tradisional yang sudah langka.
No comments:
Post a Comment